Skip to main content

GReEN

Pengalaman Kami

Field Observation Pada Proyek SUTT
70 kV PLTMG Flores – Labuan Bajo

Sebagai bagian dari pembangunan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 70 kV PLTMG Flores – Labuan Bajo, dilaksanakan kegiatan Field Observation untuk memperoleh data kondisi lingkungan pada area yang dibangun dan dilintasi jaringan transmisi.

Dalam pelaksanaan kegiatan Field Observation, PT Gaia Restorasi Ekologi Nusantara (GReEN) dipercaya sebagai konsultan pelaksana yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan observasi lapangan dan pengumpulan data lingkungan di sepanjang jalur transmisi.

Kegiatan Field Observation dilaksanakan untuk menyediakan data lingkungan yang diperlukan sebagai dasar identifikasi potensi dampak lingkungan, sehingga dapat diketahui dampak lingkungan yang ditimbulkan setelah pelaksanaan pembangunan jalur transmisi dan upaya pengelolaannya.

Deskripsi

Pembangunan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 70 kV PLTMG Flores – Labuan Bajo merupakan langkah strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah Nusa Tenggara Timur, khususnya Kabupaten Manggarai Barat, termasuk kawasan pariwisata Labuan Bajo. Namun, pembangunan infrastruktur ini berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup, terutama keanekaragaman hayati.

Survei biodiversitas flora dan fauna dilakukan untuk memperoleh gambaran kondisi lingkungan yang lebih lengkap dan akurat. Survei dilaksanakan pada musim kemarau dan musim penghujan, mengingat perbedaan musim memengaruhi aktivitas, sebaran, dan kemunculan berbagai spesies serta ketersediaan habitat dan sumber makanan.

Survei dilakukan sepanjang jalur SUTT 70 kV PLTMG Flores – Labuan Bajo yang melintasi Kecamatan Komodo dan Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, dengan panjang sekitar 12 km dari PLTMG Flores hingga Gardu Induk Labuan Bajo. Berdasarkan analisis spasial, lokasi tower dan jalur transmisi yang disurvei melintasi berbagai tipe tutupan dan penggunaan lahan, meliputi lahan terbangun (sawah dan permukiman), area penggunaan lain (APL), serta kawasan hutan produksi tetap (HPT) di bawah pengelolaan KPH Manggarai Barat. Titik tower target survei (T09–T41) berada pada elevasi 8–239 mdpl dengan variasi kelas kelerengan dari datar hingga curam.

Pengumpulan data biodiversitas dilakukan dengan metode titik sampling untuk flora, point count untuk burung, belt transek untuk mamalia dan herpetofauna, serta wawancara dengan pemangku kepentingan. Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif untuk menilai kondisi biodiversitas serta menganalisis dampak proyek SUTT, termasuk potensi bird mortality akibat interaksi burung dengan jaringan transmisi, sebagai dasar penyusunan langkah mitigasi.

Tujuan Proyek

  • Memverifikasi keberadaan spesies target di area kegiatan.

  • Mengidentifikasi flora dan fauna sepanjang jalur transmisi pada musim hujan dan kemarau.

  • Menilai dampak kegiatan terhadap keanekaragaman hayati, termasuk habitat, komposisi komunitas, dan direct mortality.

  • Memberikan rekomendasi pengelolaan lingkungan untuk meminimalkan dampak.

  • Memantau bird mortality di sekitar tower SUTT.

Ruang Lingkup

  • Jalur SUTT 70 kV PLTMG Flores – Labuan Bajo.
  • Inventarisasi flora dan fauna.
  • Penilaian dampak lingkungan.
  • Rekomendasi mitigasi.
  • Pemantauan bird mortality.
  • Pelaporan dan evaluasi hasil survei.

Hasil Kegiatan

Hasil survei keanekaragaman hayati sepanjang jalur proyek SUTT 70 kV menunjukkan bahwa struktur komunitas fauna dan flora di area studi masih relatif terjaga. Pada kelompok mamalia tercatat 30 individu, dengan spesies dominan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) sebanyak 21 individu, menunjukkan adaptasi yang baik terhadap kondisi habitat di sepanjang jalur proyek.

Kelompok herpetofauna tercatat sebanyak 73 individu, dengan spesies dominan kadal kebun (Eutropis multifasciata, 17 individu) dan tokek (Gecko gecko, 16 individu), yang mengindikasikan distribusi yang cukup merata dan stabil di area survei. Survei flora yang difokuskan pada vegetasi berkayu mencatat 732 individu pohon dari 48 spesies, dengan beberapa titik pengamatan menunjukkan kerapatan pohon yang tinggi, sedangkan pada area persawahan tidak ditemukan tegakan pohon. Hasil ini menunjukkan bahwa struktur vegetasi di sepanjang jalur proyek sebagian besar tetap utuh, meskipun terdapat beberapa lokasi yang terpengaruh oleh penggunaan lahan manusia.

Berdasarkan analisis lapangan dan kaidah Environmental & Social Management System Manual PT PLN (Persero), dampak proyek SUTT terhadap keanekaragaman hayati secara umum dikategorikan rendah dan bersifat lokal. Pemantauan Bird Mortality tidak mencatat adanya kematian burung maupun kelelawar di sekitar tower, sehingga risiko langsung terhadap fauna tergolong rendah. Meski demikian, potensi perubahan habitat tetap ada akibat kegiatan konstruksi, sehingga upaya mitigasi dan pemantauan berkelanjutan diperlukan untuk menjaga kelestarian ekosistem di sepanjang jalur transmisi.