
Apa Itu Daerah Aliran Sungai (DAS)
Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah unit geografis yang terdiri dari area daratan yang drainasenya secara alami mengalir ke satu sistem sungai utama atau ke titik aliran air lainnya, seperti danau atau laut. DAS berfungsi sebagai sistem hidrologis yang mengumpulkan, menyimpan, dan mengalirkan air dari berbagai sumber seperti hujan, salju, aliran permukaan, dan mata air, menuju sungai utama dan akhirnya ke laut. Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah upaya terpadu yang dirancang untuk memulihkan, mempertahankan, dan meningkatkan fungsi ekologis, hidrologis, serta sosial-ekonomi dari suatu DAS yang telah mengalami kerusakan. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 37 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, rehabilitasi DAS merupakan kewajiban yang harus dilakukan untuk memastikan keberlanjutan sumber daya alam dan mencegah terjadinya bencana alam.
Dampak Kerusakan DAS
Kerusakan DAS sering kali disebabkan oleh aktivitas manusia seperti deforestasi, alih fungsi lahan, serta praktik pertanian yang tidak berkelanjutan, sehingga menyebabkan menurunnya fungsi DAS. Berikut adalah penjelasan mengenai dampak kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan menggabungkan banjir dan erosi sebagai bencana alam:
- Kekeringan
Kerusakan DAS menyebabkan penurunan kemampuan tanah untuk menyerap dan menyimpan air. Akibatnya, selama musim kemarau, ketersediaan air menjadi sangat terbatas, yang berujung pada kekeringan parah. Dampak ini tidak hanya mengganggu pasokan air bersih bagi penduduk, tetapi juga mengancam ketahanan pangan karena tanaman pertanian kekurangan air.
- Bencana Alam
Kerusakan DAS meningkatkan risiko terjadinya bencana alam seperti banjir, erosi dan longsor. Hilangnya vegetasi yang berfungsi sebagai penyangga alami mengakibatkan air hujan mengalir secara tidak terkontrol, menyebabkan peningkatan frekuensi dan intensitas banjir. Selain itu, kehilangan vegetasi juga membuat tanah lebih rentan terhadap erosi, yang dapat mengakibatkan tanah longsor, merusak infrastruktur, lahan pertanian, serta menimbulkan kerugian ekonomi dan korban jiwa.
- Perubahan Iklim
Kerusakan DAS berkontribusi terhadap perubahan iklim global. Hilangnya hutan dan vegetasi mengurangi kemampuan DAS untuk menyerap karbon dioksida, salah satu gas rumah kaca utama. Hal ini mempercepat pemanasan global dan memperburuk perubahan iklim, yang berdampak pada peningkatan frekuensi dan intensitas bencana alam.
- Kehilangan Keanekaragaman Hayati
DAS yang rusak tidak lagi mampu mendukung berbagai ekosistem yang bergantung padanya. Kehilangan habitat yang penting menyebabkan penurunan populasi flora dan fauna, serta mengancam keanekaragaman hayati di wilayah tersebut.
- Degradasi Kualitas Air
Tanpa vegetasi dan tata kelola yang baik, air yang mengalir dari DAS seringkali membawa lumpur dan sedimen, serta polutan lainnya, yang mencemari sumber air seperti sungai dan danau. Ini mengakibatkan penurunan kualitas air yang dapat berdampak buruk pada kesehatan manusia dan ekosistem perairan.
Kegiatan Utama dalam Rehabilitasi (DAS)
Kegiatan dari rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) meliputi berbagai langkah yang dirancang untuk memulihkan dan meningkatkan fungsi ekologis, hidrologis, dan sosial-ekonomi suatu DAS yang mengalami degradasi. Beberapa kegiatan utama dalam rehabilitasi DAS adalah:
- Penanaman Vegetasi
Melibatkan penanaman pohon-pohon dan tanaman lain untuk mengembalikan tutupan lahan. Penanaman ini bertujuan untuk mengendalikan erosi, memperbaiki kualitas tanah, serta mendukung fungsi ekosistem dan ekonomi masyarakat.
- Pengendalian Erosi dan Sedimentasi
Kegiatan ini melibatkan pembuatan terasering, gully plug, dan tanggul untuk mengurangi erosi tanah dan mencegah sedimentasi di sungai dan waduk. Langkah ini penting untuk menjaga stabilitas lahan dan mencegah kerusakan lebih lanjut pada DAS.
- Rehabilitasi Lahan Kritis
Melibatkan upaya perbaikan lahan yang rusak atau tidak produktif melalui pengelolaan yang lebih baik, termasuk konservasi tanah dan air, serta pengelolaan vegetasi. Ini mencakup langkah-langkah untuk meningkatkan kemampuan lahan dalam menyimpan air dan mendukung kehidupan tanaman.
- Pengelolaan Tata Air
Melibatkan perbaikan sistem tata kelola air, seperti pembuatan embung, dam parit, dan kanal, untuk mengatur aliran air di DAS. Ini membantu mencegah banjir saat musim hujan dan mengurangi risiko kekeringan di musim kemarau.
- Pemberdayaan Masyarakat
Melibatkan masyarakat setempat dalam proses rehabilitasi melalui program-program pendidikan, pelatihan, dan pemberdayaan ekonomi. Ini termasuk pengembangan usaha-usaha berbasis HHBK, yang mendukung keberlanjutan ekonomi masyarakat sekitar DAS.
- Pemantauan dan Evaluasi
Melibatkan kegiatan pemantauan secara berkala terhadap kondisi DAS yang telah direhabilitasi untuk memastikan keberhasilan program dan melakukan penyesuaian jika diperlukan.
Tujuan Rehabilitasi DAS
Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan upaya strategis yang bertujuan untuk memulihkan dan meningkatkan kesehatan ekosistem DAS yang telah mengalami kerusakan akibat deforestasi, alih fungsi lahan, dan praktik pertanian yang tidak berkelanjutan. Program ini dirancang untuk memulihkan fungsi ekologis dengan memperbaiki tata kelola air, menanam vegetasi, dan memperkuat struktur tanah guna mengurangi risiko bencana alam seperti banjir dan longsor. Selain itu, rehabilitasi DAS berfokus pada perbaikan kualitas lingkungan melalui pengendalian pencemaran tanah, air, dan udara serta peningkatan kapasitas tanah untuk mendukung kehidupan flora dan fauna.
Kegiatan ini berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan menciptakan peluang ekonomi baru, termasuk peningkatan produktivitas pertanian dan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK). Dengan pendekatan menyeluruh ini, rehabilitasi DAS bertujuan untuk memastikan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, menjaga keseimbangan ekosistem, dan menjamin ketersediaan sumber daya untuk generasi mendatang.
Catatan Kegiatan Rehabilitasi DAS oleh GReEN
Kegiatan Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang pernah dilaksanakan GReEN (GAIA) yaitu merupakan kerjasama sama dengan PT Amman Mineral Nusa Tenggara yang terletak di 2 (dua) lokasi yaitu pada areal Hutan Kemasyarakatan (HKm) Kelompok Dongo Baru Desa Sapit Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur seluas 138,41 Ha. Selain di Desa Sapit lokasi lainnya yaitu di Desa Aik Berik, Kecamatan Batukliang Utara Kabupaten Lombok Tengah seluas 73 Ha.
Untuk Desa Sapit, Penanaman mulai dilakukan pada tahun 2019. Jumlah pohon yang ditanam yaitu sebanyak 400 pohon/Ha, adapun jenis pohon yang ditanam antara lain yaitu pohon kayu dari jenis Rajumas, pohon penghasil buah yaitu Durian Okulasi dan Alpukat, serta kopi robusta sebagai tanaman sela. Pemilihan tanaman didasarkan pada hasil kesepakatan bersama antara pemangku kepentingan dan masyarakat, dengan mempertimbangkan aspek ekologi dan ekonomi. Kegiatan Rehabilitasi DAS Sapit telah dilakukan evaluasi dan penilaian pada tahun 2022 dengan keberhasilan sebesar 85%. Berdasarkan hasil kunjungan terbaru di tahun 2024 ke Desa Sapit Hampir 80% tanaman Alpukat dari kegiatan Rehab DAS telah berbuah dan memberikan tambahan penghasilan bagi anggota kelompok HKm Dongo Baru. Untuk jenis Durian diharapkan mulai berbuah pada awal tahun 2025.
Sedangkan Untuk Desa Aik Berik, Penanaman mulai dilakukan pada tahun 2020. Jumlah pohon yang ditanam juga sebanyak 400 pohon/Ha, adapun jenis pohon yang ditanam antara lain yaitu: 1) Durian Okulasi, 2) Alpukat, 3) Pinang, 4) Bambu Petung, 5) Kemiri, 6) Aren dan 7) Kaliandra sebagai tanaman sela. Pemilihan tanaman juga didasarkan pada hasil kesepakatan bersama antara pemangku kepentingan (KPH) dan masyarakat, dengan mempertimbangkan aspek ekologi dan ekonomi. Kegiatan Rehabilitasi DAS Aik Berik telah dilakukan evaluasi dan penilaian pada tahun 2023 dengan keberhasilan sebesar 90%.