Mengenal Desa Sapit Lokasi Pelaksanaan Rehabilitasi DAS PT GReEN

Berita Mengenal Desa Sapit Lokasi Pelaksanaan Rehabilitasi DAS PT GReEN Gambaran Umum Desa Sapit Desa Sapit merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur. Desa ini terletak pada wilayah perbukitan di lereng Gunung Rinjani dan telah berkembang sebagai permukiman yang sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan pemanfaatan lahan. Sejak tahun 2004, Desa Sapit yang sebelumnya berada di wilayah Kecamatan Pringgabaya telah bergabung ke Kecamatan Suela. Aktivitas masyarakat di Desa Sapit umumnya berkaitan dengan pengelolaan lahan, baik berupa pertanian ladang, kebun campuran, maupun pemanfaatan kawasan hutan melalui mekanisme legal yang tersedia. Ketergantungan masyarakat terhadap lanskap sekitarnya menjadikan kondisi lingkungan desa memiliki peran penting dalam menunjang keberlanjutan kehidupan sehari-hari. Selain aktivitas agraris, Desa Sapit juga memiliki berbagai tradisi budaya lokal seperti Maulid Bleq, bebubus batu, dan upacara adat lainnya yang masih dijaga oleh masyarakat setempat. Karakteristik Lingkungan dan Pola Pemanfaatan Lahan Desa Sapit berada pada kawasan perbukitan di lereng Gunung Rinjani dengan kondisi topografi yang didominasi oleh kelerengan sedang hingga curam. Karakteristik biofisik ini membentuk pola bentang alam berundak yang memengaruhi kemampuan lahan dalam mendukung pertumbuhan vegetasi maupun aktivitas budidaya. Iklim sejuk dengan curah hujan yang relatif tinggi memberikan potensi produktivitas vegetasi yang baik, meskipun topografi berlereng menuntut praktik pengelolaan lahan yang sesuai dengan kondisi alamiah kawasan. Pola pemanfaatan lahan di Desa Sapit didominasi oleh kegiatan pertanian dan perkebunan. Sebagian besar masyarakat memanfaatkan lahan sebagai kebun campuran, ladang, dan areal budidaya tanaman tahunan yang menjadi sumber penghidupan utama. Selain itu, pada areal kawasan hutan, pemanfaatan dilakukan melalui skema perhutanan sosial dengan sistem Hutan Kemasyarakatan (HKm). Skema ini bertujuan memberikan akses kelola kepada masyarakat secara legal dan terstruktur, sehingga mereka dapat mengelola kawasan hutan secara berkelanjutan sambil tetap menjaga fungsi ekologisnya. Peran Ekologis Desa Sapit Kawasan Desa Sapit memiliki peran ekologis yang penting terutama dalam menjaga kestabilan kondisi lingkungan di wilayah hulu. Penutupan vegetasi pada lereng membantu mengatur proses hidrologi, terutama melalui peningkatan infiltrasi dan pengurangan aliran permukaan. Fungsi ini berpengaruh langsung terhadap ketersediaan air tanah, mengurangi risiko limpasan berlebih saat musim hujan, serta mempertahankan debit mata air pada musim kemarau. Dengan demikian, kawasan ini berkontribusi pada kestabilan tata air yang tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat di desa, tetapi juga bagi wilayah hilir yang bergantung pada pasokan air dari daerah tangkapan. Topografi yang didominasi oleh lahan miring hingga curam menjadikan kawasan ini penting dalam pengendalian erosi dan sedimentasi. Penutupan lahan yang baik berfungsi memperlambat laju air yang mengalir di permukaan dan menahan partikel tanah agar tidak mudah terangkut. Apabila fungsi ekologis ini menurun, sedimentasi pada sungai maupun saluran irigasi dapat meningkat dan berpotensi mengganggu aktivitas pertanian dan infrastruktur air di bawahnya. Oleh karena itu, menjaga kondisi penutupan lahan menjadi bagian penting dalam memelihara kestabilan ekosistem DAS secara keseluruhan. Rehabilitasi DAS Desa Sapit Kegiatan rehabilitasi DAS di Desa Sapit dilaksanakan pada areal kawasan hutan yang dimanfaatkan melalui skema Perhutanan Sosial dengan sistem Hutan Kemasyarakatan (HKm), tepatnya pada wilayah HKm Dongo Baru. Kawasan ini berada di lereng dengan kelerengan relatif curam sehingga memerlukan peningkatan tutupan vegetasi untuk memperbaiki stabilitas tanah dan memperkuat fungsi hidrologi di bagian hulu. Rehabilitasi DAS mulai dilakukan pada tahun 2019 dengan total luas penanganan sebesar 138,41 hektare. Penetapan lokasi dilakukan berdasarkan kondisi biofisik lahan yang menunjukkan kebutuhan pemulihan, seperti rendahnya tutupan vegetasi, risiko erosi yang lebih tinggi akibat kemiringan lahan, dan pentingnya kawasan tersebut sebagai bagian dari daerah tangkapan air di lanskap Rinjani Timur. Pelaksanaan rehabilitasi diarahkan untuk mengembalikan fungsi ekologis kawasan melalui peningkatan kualitas penutupan lahan, perbaikan struktur vegetasi, dan penguatan kemampuan lahan dalam mendukung siklus hidrologi. Upaya ini menjadi langkah penting dalam menjaga keberlangsungan fungsi lingkungan pada kawasan hulu yang berperan dalam mengatur ketersediaan air dan menjaga stabilitas ekosistem di sekitarnya.