Field Observation Pada Proyek SUTT 150 kV Tanjung – Switching Mataram

Pengalaman Kami Field Observation Pada Proyek SUTT70 kV PLTMG Flores – Labuan Bajo Sebagai bagian dari pembangunan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV yang dilaksanakan oleh PT PLN (Persero) UIP Nusa Tenggara. Untuk mengidentifikasi dampak lingungan yang ditimbulkan, dilakukan kegiatan Field Observation untuk memperoleh data kondisi lingkungan pada area yang dibangun dan dilintasi jaringan transmisi. Dalam pelaksanaan kegiatan Field Observation, PT Gaia Restorasi Ekologi Nusantara (GReEN) dipercaya sebagai konsultan pelaksana yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan observasi lapangan dan pengumpulan data lingkungan di sepanjang jalur transmisi. Kegiatan Field Observation dilaksanakan untuk menyediakan data lingkungan yang diperlukan sebagai dasar identifikasi potensi dampak lingkungan, sehingga dapat diketahui dampak lingkungan yang ditimbulkan setelah pelaksanaan pembangunan jalur transmisi dan upaya pengelolaannya. Deskripsi Pembangunan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV Tanjung – Switching Mataram merupakan bagian dari penguatan sistem ketenagalistrikan di Provinsi Nusa Tenggara Barat guna mendukung kebutuhan energi, pertumbuhan ekonomi, dan pengembangan wilayah, khususnya di Kota Mataram dan wilayah sekitarnya. Namun demikian, pembangunan infrastruktur jaringan transmisi ini berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup, terutama terhadap komponen keanekaragaman hayati di sepanjang jalur transmisi. Survei biodiversitas flora dan fauna dilaksanakan untuk memperoleh gambaran kondisi lingkungan yang lebih komprehensif dan akurat pada area yang dibangun dan dilintasi jaringan transmisi. Survei dilakukan pada musim kemarau dan musim penghujan, mengingat perbedaan kondisi musim dapat memengaruhi keberadaan, aktivitas, dan distribusi spesies, serta kondisi habitat dan ketersediaan sumber pakan. Survei dilakukan sepanjang jalur SUTT 150 kV Tanjung – Switching Mataram yang melintasi wilayah Kabupaten Lombok Barat dan Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Berdasarkan analisis spasial, jalur transmisi dan lokasi tower melintasi berbagai tipe tutupan dan penggunaan lahan, antara lain permukiman, lahan pertanian, area terbuka, serta area dengan vegetasi campuran. Variasi kondisi topografi dan penggunaan lahan tersebut berpotensi memengaruhi komposisi dan sebaran flora dan fauna di sekitar jalur transmisi. Pengumpulan data biodiversitas dilakukan menggunakan metode titik sampling untuk flora, point count untuk burung, belt transek untuk mamalia dan herpetofauna, serta wawancara dengan masyarakat dan pemangku kepentingan setempat. Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif untuk menilai kondisi biodiversitas dan mengidentifikasi potensi dampak pembangunan SUTT 150 kV, termasuk risiko interaksi satwa, khususnya burung, dengan jaringan transmisi, sebagai dasar perumusan langkah pengelolaan dan mitigasi yang diperlukan. Tujuan Proyek Memverifikasi keberadaan spesies target di area kegiatan. Mengidentifikasi flora dan fauna sepanjang jalur transmisi pada musim hujan dan kemarau. Menilai dampak kegiatan terhadap keanekaragaman hayati, termasuk habitat, komposisi komunitas, dan direct mortality. Memberikan rekomendasi pengelolaan lingkungan untuk meminimalkan dampak. Memantau bird mortality di sekitar tower SUTT. Ruang Lingkup Jalur SUTT 150 kV Tanjung – Switching Mataram. Inventarisasi flora dan fauna. Penilaian dampak lingkungan. Rekomendasi mitigasi. Pemantauan bird mortality. Pelaporan dan evaluasi hasil survei. Hasil Kegiatan Laporan ini menyajikan hasil survei keanekaragaman hayati (biodiversitas) di sekitar lokasi pembangunan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV Tanjung – Switching Mataram yang dilaksanakan pada dua periode waktu, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Survei ini bertujuan untuk mengidentifikasi komposisi dan struktur komunitas flora dan fauna di area proyek, serta mengevaluasi potensi dampak ekologis yang ditimbulkan oleh keberadaan infrastruktur jaringan transmisi terhadap keanekaragaman hayati setempat. Hasil survei fauna menunjukkan bahwa pada musim hujan dan kemarau tercatat 48 spesies burung, 7 spesies mamalia, 12 spesies reptil, dan 4 spesies amfibi. Survei vegetasi pada musim hujan dan kemarau mencatat keberadaan 94 spesies tumbuhan dari berbagai tingkat pertumbuhan. Analisis menunjukkan adanya dinamika ekologi yang ditandai oleh berkurangnya sebagian vegetasi akibat aktivitas antropogenik, serta perubahan komposisi dan dominansi spesies. Kondisi tersebut mengindikasikan berlangsungnya proses regenerasi vegetasi di wilayah studi. Berdasarkan hasil analisis risiko dampak yang mengacu pada ketentuan dalam Environmental & Social Management System Manual PT PLN (Persero), risiko lingkungan yang timbul akibat keberadaan dan operasional proyek SUTT 150 kV dikategorikan pada tingkat Sedang (Moderate). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat potensi gangguan ekologis, kondisi biodiversitas di area studi masih memiliki tingkat ketahanan dan kapasitas adaptasi yang relatif baik.
Field Observation Pada Proyek SUTT 70 kV PLTMG Flores – Labuan Bajo

Pengalaman Kami Field Observation Pada Proyek SUTT 70 kV PLTMG Flores – Labuan Bajo Sebagai bagian dari pembangunan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 70 kV PLTMG Flores – Labuan Bajo, dilaksanakan kegiatan Field Observation untuk memperoleh data kondisi lingkungan pada area yang dibangun dan dilintasi jaringan transmisi. Dalam pelaksanaan kegiatan Field Observation, PT Gaia Restorasi Ekologi Nusantara (GReEN) dipercaya sebagai konsultan pelaksana yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan observasi lapangan dan pengumpulan data lingkungan di sepanjang jalur transmisi. Kegiatan Field Observation dilaksanakan untuk menyediakan data lingkungan yang diperlukan sebagai dasar identifikasi potensi dampak lingkungan, sehingga dapat diketahui dampak lingkungan yang ditimbulkan setelah pelaksanaan pembangunan jalur transmisi dan upaya pengelolaannya. Deskripsi Pembangunan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 70 kV PLTMG Flores – Labuan Bajo merupakan langkah strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah Nusa Tenggara Timur, khususnya Kabupaten Manggarai Barat, termasuk kawasan pariwisata Labuan Bajo. Namun, pembangunan infrastruktur ini berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup, terutama keanekaragaman hayati. Survei biodiversitas flora dan fauna dilakukan untuk memperoleh gambaran kondisi lingkungan yang lebih lengkap dan akurat. Survei dilaksanakan pada musim kemarau dan musim penghujan, mengingat perbedaan musim memengaruhi aktivitas, sebaran, dan kemunculan berbagai spesies serta ketersediaan habitat dan sumber makanan. Survei dilakukan sepanjang jalur SUTT 70 kV PLTMG Flores – Labuan Bajo yang melintasi Kecamatan Komodo dan Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, dengan panjang sekitar 12 km dari PLTMG Flores hingga Gardu Induk Labuan Bajo. Berdasarkan analisis spasial, lokasi tower dan jalur transmisi yang disurvei melintasi berbagai tipe tutupan dan penggunaan lahan, meliputi lahan terbangun (sawah dan permukiman), area penggunaan lain (APL), serta kawasan hutan produksi tetap (HPT) di bawah pengelolaan KPH Manggarai Barat. Titik tower target survei (T09–T41) berada pada elevasi 8–239 mdpl dengan variasi kelas kelerengan dari datar hingga curam. Pengumpulan data biodiversitas dilakukan dengan metode titik sampling untuk flora, point count untuk burung, belt transek untuk mamalia dan herpetofauna, serta wawancara dengan pemangku kepentingan. Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif untuk menilai kondisi biodiversitas serta menganalisis dampak proyek SUTT, termasuk potensi bird mortality akibat interaksi burung dengan jaringan transmisi, sebagai dasar penyusunan langkah mitigasi. Tujuan Proyek Memverifikasi keberadaan spesies target di area kegiatan. Mengidentifikasi flora dan fauna sepanjang jalur transmisi pada musim hujan dan kemarau. Menilai dampak kegiatan terhadap keanekaragaman hayati, termasuk habitat, komposisi komunitas, dan direct mortality. Memberikan rekomendasi pengelolaan lingkungan untuk meminimalkan dampak. Memantau bird mortality di sekitar tower SUTT. Ruang Lingkup Jalur SUTT 70 kV PLTMG Flores – Labuan Bajo. Inventarisasi flora dan fauna. Penilaian dampak lingkungan. Rekomendasi mitigasi. Pemantauan bird mortality. Pelaporan dan evaluasi hasil survei. Hasil Kegiatan Hasil survei keanekaragaman hayati sepanjang jalur proyek SUTT 70 kV menunjukkan bahwa struktur komunitas fauna dan flora di area studi masih relatif terjaga. Pada kelompok mamalia tercatat 30 individu, dengan spesies dominan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) sebanyak 21 individu, menunjukkan adaptasi yang baik terhadap kondisi habitat di sepanjang jalur proyek. Kelompok herpetofauna tercatat sebanyak 73 individu, dengan spesies dominan kadal kebun (Eutropis multifasciata, 17 individu) dan tokek (Gecko gecko, 16 individu), yang mengindikasikan distribusi yang cukup merata dan stabil di area survei. Survei flora yang difokuskan pada vegetasi berkayu mencatat 732 individu pohon dari 48 spesies, dengan beberapa titik pengamatan menunjukkan kerapatan pohon yang tinggi, sedangkan pada area persawahan tidak ditemukan tegakan pohon. Hasil ini menunjukkan bahwa struktur vegetasi di sepanjang jalur proyek sebagian besar tetap utuh, meskipun terdapat beberapa lokasi yang terpengaruh oleh penggunaan lahan manusia. Berdasarkan analisis lapangan dan kaidah Environmental & Social Management System Manual PT PLN (Persero), dampak proyek SUTT terhadap keanekaragaman hayati secara umum dikategorikan rendah dan bersifat lokal. Pemantauan Bird Mortality tidak mencatat adanya kematian burung maupun kelelawar di sekitar tower, sehingga risiko langsung terhadap fauna tergolong rendah. Meski demikian, potensi perubahan habitat tetap ada akibat kegiatan konstruksi, sehingga upaya mitigasi dan pemantauan berkelanjutan diperlukan untuk menjaga kelestarian ekosistem di sepanjang jalur transmisi.