Skip to main content

GReEN

Strategi Rehabilitasi Hutan dan Lahan Untuk Mendukung FOLU Net Sink 2030

Berita Strategi Rehabilitasi Hutan dan Lahan Untuk Mendukung FOLU Net Sink 2030 FOLU Net Sink 2030 merupakan target nasional Indonesia untuk mencapai kondisi di mana penyerapan emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan lebih besar atau setidaknya setara dengan emisi yang dihasilkan dari sektor tersebut pada tahun 2030. Upaya ini menjadi bagian penting dari komitmen Indonesia dalam pengendalian perubahan iklim serta pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Sektor kehutanan dan penggunaan lahan memiliki peran strategis dalam mencapai target tersebut karena ekosistem hutan mampu menyerap karbon melalui proses alami pertumbuhan vegetasi. Oleh karena itu, kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan tutupan vegetasi, memperbaiki fungsi ekosistem, serta memperkuat kapasitas bentang alam dalam menyerap karbon. Dalam mendukung pencapaian target FOLU Net Sink 2030, terdapat beberapa pendekatan penting dalam pelaksanaan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan, antara lain: 1. Pemilihan Jenis Tanaman yang Sesuai Jenis tanaman perlu disesuaikan dengan kondisi biofisik wilayah seperti tanah, curah hujan, ketinggian tempat, dan karakteristik ekosistem. Penggunaan jenis pohon asli lokal menjadi prioritas karena memiliki tingkat adaptasi yang lebih baik dan mampu mendukung keberlanjutan ekosistem. Pemilihan jenis tanaman dapat mengacu pada “Atlas Jenis Pohon Andalan Setempat untuk Rehabilitasi Hutan dan Lahan” yang disusun oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, yang memuat rekomendasi jenis pohon yang sesuai untuk berbagai wilayah di Indonesia. Selain kesesuaian ekologis, pemilihan jenis juga dapat mempertimbangkan nilai ekonomi dan sosial bagi masyarakat sekitar. 2. Penguatan Sistem Pembibitan Kualitas bibit menjadi faktor penting dalam keberhasilan rehabilitasi. Bibit yang sehat dan berasal dari sumber benih yang jelas memiliki peluang tumbuh lebih tinggi di lapangan. Pengembangan pembibitan dapat dilakukan melalui kebun bibit permanen maupun kebun bibit masyarakat. Penerapan teknologi seperti “inokulasi mikoriza” juga dianjurkan karena dapat meningkatkan kemampuan tanaman dalam menyerap unsur hara dan air serta meningkatkan ketahanan terhadap kondisi lingkungan yang kurang optimal. 3. Penerapan Teknik Silvikultur Setiap jenis tanaman memiliki kebutuhan tumbuh yang berbeda sehingga diperlukan penerapan teknik silvikultur yang tepat. Teknik ini mencakup pengaturan jarak tanam, pola penanaman, sistem penanaman campuran, serta teknik pemeliharaan awal tanaman. Dengan penerapan teknik silvikultur yang sesuai, kegiatan rehabilitasi dapat menghasilkan tegakan vegetasi yang sehat dan stabil dalam jangka panjang. 4. Penerapan Konservasi Tanah dan Air Pada lahan yang mengalami degradasi, teknik konservasi tanah dan air perlu diterapkan untuk mengurangi erosi, meningkatkan infiltrasi air, serta menjaga stabilitas lahan. Teknik konservasi dapat dilakukan secara vegetatif, seperti penanaman tanaman penutup tanah dan penanaman mengikuti garis kontur, maupun secara sipil teknis seperti pembangunan terasering, rorak, atau bangunan pengendali aliran permukaan. 5. Pelibatan Masyarakat Keterlibatan masyarakat merupakan faktor penting dalam keberlanjutan kegiatan rehabilitasi. Partisipasi masyarakat dapat dilakukan melalui berbagai skema pengelolaan hutan berbasis masyarakat seperti program perhutanan sosial. Sistem agroforestri menjadi salah satu pendekatan yang efektif karena mampu mengintegrasikan tanaman kehutanan dengan tanaman bernilai ekonomi sehingga memberikan manfaat ekologis sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 6. Pemeliharaan Tanaman Tahap pemeliharaan menjadi bagian penting untuk memastikan keberhasilan rehabilitasi. Pemeliharaan umumnya dilakukan hingga tanaman berumur sekitar tiga tahun dan meliputi penyulaman tanaman mati, penyiangan gulma, pemupukan, serta pengendalian hama dan penyakit. Upaya rehabilitasi hutan dan lahan memiliki peran penting dalam mendukung pencapaian target FOLU Net Sink 2030. Melalui perencanaan yang baik, pemilihan jenis tanaman yang tepat, penerapan teknik pengelolaan lahan yang sesuai, serta keterlibatan masyarakat secara aktif, kegiatan rehabilitasi dapat memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan serapan karbon sekaligus memulihkan fungsi ekosistem. Pendekatan rehabilitasi yang terintegrasi tidak hanya memperbaiki kondisi lingkungan yang terdegradasi, tetapi juga memperkuat ketahanan lanskap serta mendukung keberlanjutan pengelolaan sumber daya alam di masa mendatang.